Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Waspada ! Inilah Bahaya Media Sosial bagi Masyarakat

Hartoni.com -Melihat kondisi yang sekarang, dimana Kita hidup di zaman serba mudah atau yang disebut era teknologi hampir seluruh masyarakat indonesia mulai dari usia dini bahkan yang Lanjut usia 99,9% menggunakan sosial media.

Seperti yang kita ketahui, banyak sekali alat teknologi yang digunakan untuk mengaksesnya mulai dari, komputer, handphone, dan lain sebagai nya.

Macam-macam dari penggunaan nya adalah youtobe, facebook, google, whatshap,twiter,instagram dan masih banyak lagi yang lainnya.

Lebih lanjut, penggunaan sosial media tersebut digunakan sebagian besar untuk memenuhi kebutuhan penggunanya. Tentu bisa kita bayangkan apa saja yang kita butuhkan dari sosial media. Tetapi ada satu hal yang tanpa kita sadari sebagai pengguna, tentu apa yang kita lakukan akan berpengaruh dalam hidup kita.

Sama halnya dengan sosial media, dimana ia mampu mempengaruhi kehidupan kita baik dari segi positif atau bahkan negatif. Namun dari pengaruh tersebut, positif nya sudah jelas tujuan nya, tetapi apakah kita tau tentang pengaruh negatif itu? Yang hanya diartikel inilah kita akan menuntaskan nya.

Manusia berpikir bahwa sebuah teknologi adalah sebagai alat bantu untuk mempermudah dalam segala hal, tanpa mereka sadari bahwa merekalah yang menjadi sasarannya. Langsung saja kita akan bahas pengaruh positif dan negatifnya dari penggunaan sosial media sebagai berikut:

Pengaruh positif:
Berdasarkan pengamatan saya sendiri,hanya ada satu pengaruh positif dari sosial media.
1. Mengakses,mencari,menyebarluaskan suatu informasi secara cepat dan luas. Mungkin bonus nya adalah sebagai hiburan seperti game dan lain-lain, meski sebenarnya yg bersifat hiburanpun akan membawa pengaruh yang sangat buruk bagi penggunanya terkhusus untuk anak usia dini, yang lebih lanjut akan kita bahas pada paragraf berikutnya.
Pengaruh negatif:

1. Kecanduan
Bayangkan bila ada seorang pemakai narkoba ia mungkin mengalami kecanduan dalam mengonsumsinya. Namun berbeda dengan pengguna sosial media, yang saya amati tingkat kecanduannya lebih tinggi dari pemakai narkoba. Mengapa tidak pengguna narkoba bisa bertahan paling sedikit 1 minggu untuk tidak memakainya atau dalam waktu tertentu. Sedangkan pengguna sosial media satu menit tanpa ponselnya ia tidak akan melakukan sesuatu tanpa ponsel tersebut. Artinya seseorang akan slalu bersama ponsel nya dimanapun berada sebagai kebutuhan paling penting setelah kebutuhan pangan.

2. Ekonomi 
Secara ekonomi tidak bisa dipungkiri bahwa apapun yang kita lakukan hampir membutuhkan uang atau lain sebagainya yang berkaitan dengan ekonomi. Dalam hal tersebut, kita sebagai pengguna atau pemakai Secara aktif dan rutin Tentu saja kita membutuhkan uang untuk mengaktifkan paket dalam mengakses sesuatu dari sosial media. Dimana jika tidak terpenuhi kita akan melakukan banyak cara untuk mendapatkan nya baik secara memaksakan yang tidak baik maupun dengan cara yang lain. Terhitung rata-rata kebutuhan secara uang untuk sosial media diatas sebesar Rp. 100.000 perminggunya. Bayangkan jika di bandingkan dengan kebutuhan lauk sehari-hari tentu lebih besar pengeluaran untuk sosial media bukan?

3. Bullying 
Sangat tidak asing lagi mendengar kata-kata diatas bukan? Bullying terjadi di indonesia sangat beragam macamnya dan menjadi pemersalahan yang hampir tak terselesaikan. Dari sosial media ini lah peningkatan bullying semankin tinggi, sebab orang-orang melihat dan mendengar secara cepat dan luas bahkan ada yang meniru perlakuan tersebut. Prosesnya, jika dibandingkan dengan anak-anak yang sering membuli pada zaman dulu mereka hanya melakukannya semacam kekerasan, pencacimakian, yang hanya dilakukan oleh sekelompok pelaku dengan sasaran saja. Sedikit banyaknya yang dapat mengetahui nya mungkin dari keluarga dan masyarakat sekitarnya saja. Berbeda dengan bullying di sosial media, dimana yang menjadi korban disoroti oleh banyak publik yang tau. Berbagai pro dan kontra oleh masyarakat dan hal tersebut tidak akan hilang dalam waktu yang singkat, melainkan akan tumbuh selamanya dalam benak masyakat publik. Sehingga apa yang kita terima dari pembulian akan menjadi suatu penilaian baik atau buruknya. Akibatnya, kita tidak berani keluar rumah, mental menjadi lemah, stres dan lain sebagainya.

4. Sebagai wadah dalam meniru,mengamati,melakukan
Meniru mengamati dan melakukan biasanya dilakukan oleh orangtua, guru, dan orang lain untuk anak-anaknya. Tetapi dalam hal ini sangat lebih mudah meniru apapun yang ada dalam sosial media. Dikhawatirkan untuk anak usia dini yang dimana pada fase dalam meniru, karna sering disuguhi dari berbagai konten sosial media bahkan ada yang memeperbolehkan memakainya Ia akan meniru apapun yang ia lihat. Ironisnya jika yang ia lihat tidak baik bagi perkembangannya jangan disalahkan jika anak tersebut akan terbentuk karakter yang tidak baik.

5. Sebagai wadah untuk pamer (Menunjukan sesuatu yang berlebihan)
Segala sesuatu yang berlebihan tentu akan membuat kita sebagai penilai akan menjadi pro dan kontra untuk menilai, tetapi sesuai porsinya masing-masing. Yang lebih aneh nya masyarakat menggunakan sosial media hanya untuk mengadu kepameran yang tidak penting seperti, memamerkan saldo uang, makanan, tempat, barang-barang mewah bahkan untuk bunuh diripun melakukan siaran langusng. Sungguh sangat disayangkan hal tersebut terjadi di masa yang sekarang bukan malah membuat orang lain termotivasi, melaikan memburuknya suatu pendidikan bagi seorangg anak yang melihatnya.

Kejamnya sosial media tidak banyak disadari oleh masyarakat indonesia. Yang memperihatikan adalah untuk generasi muda yaitu anak usia dini, dimana para orangtua sekarang sangat bebas memberikan kepada anaknya sebuah ponsel yang mungkin mereka pikir untuk menjadikan anaknya tidak nangis lagi. Yang akhirnya hal itu akan menjadikan sang anak tersebut kecanduan bila tidak memegangnya. Dari kelima pengaruh negatif diatas yang paling sering terjadi adalah hampir semua menjadi permasalahan bagi masyarakat indonesia saat ini. Berangkat dari kasus pembunuhan yang sadis Pada bulan maret tahun 2020 minggu lalu, oleh anak usia 15thn kepada anak usia 5thn yang dilakukannya dengan alasan terinspirasi dari film horor yang didapatkannya melalui youtube. 

Apakah hal semacam tidak membahayakan? Lebih sadis nya iya melakukannya dengan startegi yang sudah diaturnya dan berhasil. Sangat terkejutnya ia melakukan nya dengan sadar dan tidak menyesal. Tentu sikis anak tersebut selain dari keturunan gen kemungkinan besar terbentuk dari pengaruh sosial media yang berlebihan. Selain kasus ini banyak sekali kasus-kasus yang sudah terjadi dan mengakibatkan kematian. 

Hal semacam ini tidak ada pencegahan dari kedua orang tua,lingkungan,pendidikan dan pemerintah bisa dibayangkan akan jadi seperti apa generasi muda kita. Melihat pemakaian sosial media yang tidak ada pembatasnya bagi anak-anak tentu menjadi permasalahan besar bagi indonesia.

Pada intinya hal yang bisa kita ambil dari permasalahan diatas bijaklah dalam menggunakan sosial media. Baik dari kedua orang tua yang membimbing anaknya, guru bahkan pemerintah sekalipun. Karna pada kenyataan nya sosial media hanyalah alat yang mampu mempermudahkan kita dalam melakukan sesuatu, tetapi mampu mengancam kita sebagai sasaranya. Batasilah penggunaan sosial media baik dari usia lanjut, remaja, dan yang paling penting anak usia dini. Karna sosial media bisa menjadi baik bagi penggunanya tetapi bisa pula menjadi buruk bagi penggunaya.

Penulis.