Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Dimensi Organisasi dan Hakikat nya


Hartoni.com - Bidang pengetahuan perilaku organisasi cukup mengalami perkembangan yang pesat. Bahkan pusat-pusat studi di berbagai universitas di Amerika didirikan untuk membina dan mengembangkan bidang pengetahuan ini.

Perkembangan bidang pengetahuan ini, mudah dipahami, karena selain persoalan-persoalan organisasi yang cenderung semakin rumit, persoalan-persoalan manusia sendiri berlanjut menjadi tantangan pokok yang harus dihadapi oleh setiap pimpinan organisasi.

Manusia adalah pendukung utama setiap organisasi apapun bentuknya. Perilaku manusia yang berada dalam suatu kelompok atau organisasi adalah awal dari perilaku organisasi tersebut. Karena persoalan-persoalan manusia yang selalu berkembang dan rumit, maka persoalan-persoalan organisasi dan khususnya persoalan perilaku organisasi semakin hari semakin berkembang pula.

Perilaku organisasi hakikatnya mendasarkan pada ilmu perilaku itu sendiri yang dikembangkan dengan pusat perhatiannya pada tingkah laku manusia dalam suatu organisasi. Kerangka dasar bidang pengetahuan ini didukung paling sedikit dua komponen, yakni individu-individu yang berperilaku dan organisasi formal sebagai wadah dari perilaku tersebut.

Manusia dan Keterlibatan nya Dalam Organisasi

Ciri peradaban manusia bermasyarakat senantiasa ditandai dengan keterlibatannya dalam suatu organisasi tertentu. Hal ini berarti bahwa manusia tidak dapat melepaskan dirinya untuk tidak terlibat dalam kegiatan-kegiatan berorganisasi. Menurut Presthus dalam Etzioni, masyarakat kita adalah masyarakat organisasi.

Dalam gambaran Etzioni diungkapkan bahwa, manusia hidup dilahirkan dalam organisasi, dididik oleh organisasi, dan hampir dari semua manusia mempergunakan waktu hidupnya bekerja untuk organisasi. Waktu senggangnya dipergunakan untuk bermain-main, dan berdoa di dalam organisasi. Demikian pula manusia akan mati dalam suatu organisasi, dan ketika sampai saat pemakaman, organisasi masih tetap memegang peranan.

Ungkapan tersebut di atas menggambarkan bahwa manusia dan organisasi telah menyatu, dan jika dua komponen pendukung perilaku organisasi berinteraksi akan menghasilkan diskusi yang menarik tentang perilaku organisasi sebagai fokus perhatian ilmu itu sendiri.

Dalam dua dekade terakhir, adanya perubahan-perubahan fundamental dalam bidang teori organisasi telah terjadi. Perubahan tersebut menghasilkan berbagai pendekatan dan perubahan orientasi dasar untuk studi teori organisasi.

Walaupun model birokrasi Weber masih mendominasi literatur teori organisasi, perubahan dari tingkat pendekatan yang deskriptif ke tingkat pendekatan yang analitis nampaknya tidak hanya dianggap penting, namun dapat dipergunakan sebagai lompatan awal untuk mendasari pengkajian teori perilaku dalam organisasi.

Warren Bennis, meramalkan bahwa 25 sampai 50 tahun mendatang kita akan menyaksikan akhir hayat dari birokrasi, dan akan terbit suatu sistem sosial yang lebih baik dari abad sekarang. Selain itu juga ditandaskan bahwa perubahan mendasar dari konsep nilai-nilai organisasi adalah didasarkan pada kemanusiaan yang menghapuskan sifat-sifat depersonalisasi dari mekanisme sistem birokrasi.

Dari ramalan Bennis tersebut, penempatan kembali faktor manusia dalam organisasi bukannya semakin diabaikan, namun malah mendapatkan posisi yang mantap untuk diskusi tentang teori organisasi di masa yang akan datang. Terdapat tiga dimensi pokok dalam setiap diskusi tentang teori organisasi yaitu: dimensi teknis, dimensi konsep, dan dimensi manusia.

Kegiatan organisasi yang efektif akan dapat terwujud jika ketiga dimensi ini berinteraksi.

a. Dimensi teknis menekankan pada kecakapan yang dibutuhkan untuk menggerakkan organisasi. Dimensi ini berisi keahlian-keahlian birokrat atau manajer bidang teknis yang diperlukan untuk menggerakkan organisasi, misalnya keahlian computer, pemasaran, engineering, dan sebagainya.

b. Dimensi konsep merupakan motor penggerak dari dimensi teknis dan sangat berhubungan erat dengan dimensi manusia.

c. Dimensi manusia. Jika birokrat bekerja hanya mengandalkan dimensi teknis, dan mengabaikan dimensi konsep atau dimensi manusia, maka akan menimbulkan suatu iklim yang tidak respektif terhadap faktor pendukung utama organisasi yaitu manusia.

Ilmu perilaku organisasi berusaha mengurangi sikap birokrat yang tidak respektif tersebut dengan memusatkan sebagaian pandangannya pada perilaku manusia itu sendiri sebagai dimensi yang penting dalam suatu organisasi.

Pendekatan perilaku dalam organisasi menekankan bahwa manusia dalam organisasi adalah merupakan unsur yang komplek. Sehingga adanya suatu kebutuhan akan pemahaman teori yang didukung oleh riset yang empiris sangat diperlukan sebelum sebelum diterapkan dalam mengelola manusia itu sendiri secara efektif. Secara tradisional, manajer atau birokrat memahami dimensi manusia dalam organisasi dengan pendekatan asumsi-asumsi ekonomi, suasana kerja, keamanan dan sebagainya.

Akibatnya, pendekatan-pendekatan hubungan kerja kemanusiaan (human relations), psikologi industri, dan keteknikan industri (industrial engineering), dipergunakan sebagai satu-satunya pendekatan (approach) untuk memahami dimensi manusia dalam organisasi.

Pendekatan dan pemahaman tersebut nampaknya tidak akan bertahan untuk waktu yang lama. Karena pendekatan dari ilmu perilaku organisasi ternyata berhasil menggantikan berbagai pendekatan tersebut dan dapat diterima untuk memahami aspek-aspek manusia sebagai suatu dimensi dalam organisasi.